MALUKU, liputanbangsa.com – Intensitas hujan tinggi melanda wilayah pegunungan Madonahera, membuat aliran 2 sungai meluap hingga mengggenangi pemukiman warga Desa Rotnama, Kecamatan Madonahera, Kabupaten Maluku Barat Daya, Senin (23/1).
Berdasarkan data dari BPBD Maluku Barat Daya, 247 jiwa atau sekitar 63 Kepala Keluarga menjadi korban banjir ini.
Kepala Desa Rotmana, Teprianus Hadulu menjelaskan penyebab banjir yang menimpa desanya karena aliran sungai yang menguap. “Hujan sejak Kamis (19/1) hingga Senin (23/1), warga terpaksa mengungsi ke dataran tinggi dan bangunan sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, ia juga menilai saat ini area sungai mengecil, pekerjaan proyek jalan lintas antarpulau Sermata yang menggunakan material dari dua sungai, yaitu sungai bersebelahan timur dan sungai bersebelahan barat diduga menjadi pemicu banjir.
“Jadi area sungai itu digali sehingga daerah aliran sungai tidak normal, saat hujan turun, sungai tak mampu tampung air sehingga air meluap dan merendam perkampungan warga,” tutur Teprianus.
Baca juga: Peringatan Dini Tsunami Dicabut 3 Jam Setelah Gempa M 7,5 di Maluku – Liputan Online Indonesia
Bantuan dari Pemerintah Daerah diharapkan oleh warga, mengingat kondisi mereka yang saat ini berada di pengungsian swadaya yang dibuat oleh korban banjir sendiri.
“Saat ini warga di pulau terluar masih menunggu bantuan, mungkin kendala transportasi, karena laut yang belum membaik. Sementara otoritas setempat masih melarang kapal-kapal untuk berlayar karena gelombang tinggi akibat cuaca,” tambahnya.
Akibat kondisi lautan yang belum membaik dan akses transportasi yang sulit, Desa Rotmana belum mendapatkan bantuan dari pihak kabupaten. Kepala BPBD Kabupaten Maluku Barat Daya, Jemi Lico saat ini masih berkoordinasi dengan Polsek Madonahera terkait penambahan personel untuk membantu warga.
“Jadi ada bantuan cuma masih terkendala, kita masih koordinasi dengan kades dan camat agar meminta pengusaha lokal disitu membantu dulu, sebab kalau nunggu dari Pemda terlambatnya,” kata Jemi.
Ia menambahkan, gelombang tinggi berada di perairan Maluku Barat Daya saat ini menurut laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dam Geofisika (BMKG) sehingga kapal-kapal masih dilarang berlayar. (afifah/lbi)

