liputanbangsa.com – Gempa berkekuatan M 7,7 skala ritcher di Turki dan Suriah menyebabkan sekitar 3.700 orang tewas dan ribuan orang lainnya luka-luka, pada Senin (6/2). Sejumlah korban menuturkan keadaan saat peristiwa menakutkan itu terjadi.
Salah satu korban bernama Tulin Akkaya mengatakan, dirinya baru saja terbangun dari tidur ketika gempa bumi tersebut terjadi. Pada guncangan kedua, Akkaya yang masih mencoba menyadarkan dirinya langsung bergegas menyelamatkan diri dari gempa terbesar yang melanda Turki.
“Saya sangat takut. Saya merasakan (gempa susulan) sangat kuat karena saya tinggal di lantai paling atas,” katanya dilansir dari TRT World.
Ia menambahkan, “Kami bergegas keluar dengan panik. Itu hampir sama dengan gempa pagi. Saya tidak bisa kembali ke apartemen saya sekarang, saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.” Imbuhnya.
Halis Aktemur, korban gempa Turki lainnya menceritakan pada saat gempa berlangsung dirinya sedang mencari seseorang untuk diselamatkan kembali di Diyarbarkir.
“Kami berhasil menyelamatkan tiga orang, tapi dua tewas. Setelah gempa kedua, saya tidak bisa pergi kemana-mana. Saya pikir mereka akan membutuhkan bantuan saya lagi.” ujar Aktemur.
Setelah gempa pertama terjadi, warga mulai berjalan kembali ke apartemen untuk mengambil barang-barang yang dapat membantu mereka bertahan di malam yang dingin, tetapi tanpa diduga gempa kedua terjadi. Gempa tanpa henti tersebut meruntuhkan bangunan-bangunan yang rusak di Diyarbarkir dan Kahramanmaras.
Seorang jurnalis yang tinggal di Kahramanmaras, Melisa Salman (23) mengatakan gempa tersebut sangat besar dan baru pertama kali ia merasakan guncangan gempa sebesar itu. “Karena saya tinggal di zona gempa, saya terbiasa terguncang. Tapi itu pertama kalinya kami mengalami hal seperti itu, kami pikir itu adalah kiamat,” jelasnya.
Korban gempa Turki lainnya yang merupakan profesor di Universitas Gaziantep, Erdal Bay mengatakan hal yang serupa. Saat gempa hebat itu terjadi, ia sedang tertidur. “Saya pikir garis antara hidup dan mati sudah tipis sekarang, dan semuanya akan berakhir. Saya memikirkan keselamatan keluarga saya,” kata Bay.
Bangunan rumahnya tidak rusak dan hanya perabot rumahnya saja yang jatuh berserakan saat gempa terjadi, tetapi saat ia keluar rumah, ia melihat semua orang berhamburan keluar dan ketakutan. “Saya mencoba membawa anak-anak saya ke tempat yang aman. Ibuku sudah tua. Kami meninggalkan gedung setelah gempa pertama,” jelasnya.
Bay meninggal Gaziantep dengan mobil setelah membagikan ceritanya dengan Anoldu Agency melalui WhatsApp dan pesan teks. “Kami sedang berada di kendaraan kami sekarang. Banyak orang di dalam mobil. Ada kekacauan dan lalu lintas di mana-mana.”
Kemudian ia menambahkan, gempa yang terjadi di Turki pada hari Senin tersebut merupakan gempa paling kuat yang pernah dirasakannya. “Ini adalah gempa yang sangat kuat. Saya pernah mengalami gempa bumi yang berbeda sebelumnya tetapi belum pernah merasakan gempa yang berlangsung selama ini,” tuturnya.
Melihat peristiwa tersebut, professor itu mengatakan betapa tidak siapnya dia menghadapi gempa tersebut. “Semua orang meninggalkan rumah tanpa persiapan. Kami tidak punya tas darurat, tidak ada kesadaran bahwa kami tidak boleh menggunakan lift,” ujar. (af Bayifah/lbi)

