Inovasi Program Bioetanol, Bisa Sulap Tebu Jadi Energi – Liputan Online Indonesia

MOJOKERTO, liputanbangsa.comProgram bioetanol tebu untuk ketahanan energi telah diluncurkan Presiden Jokowi sejak tahun 2022.

Jokowi berharap program bioetanol ini dapat berjalan sesuai rencana, dimulai dari bioetanol 5 persen (E5) pada BBM, kemudian meningkat E10, E20 dan seterusnya.

Saat ini, sudah diterapkan etanol 5 persen dalam BBM dan rencananya mulai 2024 PT Pertamina (Persero) akan menaikkan kadar etanol menjadi 8 persen.

Dengan kenaikan kebutuhan tebu untuk energi, apakah akan berdampak pada kebutuhan impor gula?

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menjelaskan, etanol didapatkan dari tetes tebu yang merupakan produk sampingan gula.

“Di masa lalu, tetes tebu dibuang-buang karena dianggap produk yang kurang bermanfaat. Sebab ini produk samping, dia tidak akan berpengaruh langsung pada impor gula,” kata Khudori, Minggu (17/9).

Selama ini, tetes tebu dimanfaatkan sebagai bahan spirtus hingga bumbu masakan.

“Mestinya program ini tidak akan memperbesar impor gula karena etanol dibuat dari tetes tebu yang selama ini banyak digunakan untuk spirtus/alkohol atau bumbu masak (MSG),” pungkas kata Khudori.

Pemerintah menargetkan pencapaian peningkatan bioetanol yang berasal dari tanaman tebu minimal 1,2 juta kilo liter paling lambat terwujud tahun 2030.

Hal itu tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel).

Khudori menjelaskan, target 1,2 juta kilo liter itu didasarkan asumsi semua tetes yang dihasilkan PTPN III (2,16 juta ton) dan swasta (2,79 juta ton) diproduksi jadi etanol.

Hal ini justru yang akan menjadi tantangan bagi pemerintah.

“Padahal tetes produksi swasta, juga PTPN III selama ini sudah digunakan untuk bahan baku bumbu masak, alkohol, dan kosmetik. Bisa kah dipastikan semua tetes, terutama milik swasta, akan disetor untuk program Bahan Bakar Nabati dan diolah jadi etanol? Bagaimana jika tetes itu tidak mungkin digeser? Apa alternatif penggantinya?” pungkas Khudori.

 

(ar/lb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *