Makna Tren ‘S-Line’ yang Viral Gegara Drakor

liputanbangsa.comMedia sosial kembali diramaikan dengan tren viral terbaru bernama S Line, yang berasal dari drama Korea berjudul sama karya sutradara Ahn Joo Young.

Serial yang tayang perdana pada 11 Juli 2025 di platform streaming Wavve ini langsung menyedot perhatian publik dan memicu rasa penasaran banyak kalangan, terutama warganet di media sosial.

Fenomena ini menjadi perbincangan hangat karena istilah “S Line” mengandung makna tersirat yang mengejutkan dan tidak biasa.

Dalam drama tersebut, S Line digambarkan sebagai garis merah misterius yang muncul di atas kepala seseorang, menandakan jumlah hubungan intim yang pernah dilakukan.

Garis ini hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu, menjadikannya elemen supranatural yang unik dalam alur cerita.

Mengutip buku Fenomena Gen Z dan Milenial karya Drs. Hari Prasetio, M.M. (halaman 61), drama Korea saat ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga kerap melahirkan tren dan pengaruh budaya baru secara global dan “S Line” adalah salah satunya.

Tokoh utama, Shin Hyun Heup (Arin Oh My Girl), adalah siswi SMA yang sejak lahir mampu melihat S Line.

Kemampuannya membuka konflik misterius. Detektif Oh Dong Sik juga melihat S Line, namun lewat bantuan kacamata khusus.

Karakter Kim Hye Young dan Kang Seon Ah mulai melihat S Line setelah menggunakan kacamata misterius.

 

Bukan Sekadar Simbol

S Line bukan hanya simbol, tetapi inti konflik yang menghubungkan karakter lewat jejak hubungan masa lalu mereka.

Garis merah ini melambangkan keterikatan dan rahasia hubungan intim yang tersembunyi dari pandangan orang kebanyakan.

Drama S Line masih tayang secara eksklusif di Wavve setiap hari Jumat. Episode ke-3 dan ke-4 dijadwalkan tayang pada Jumat, 18 Juli 2025.

Garis Merah diatas Kepala Berdampak Buruk

Beberapa hari terakhir, media sosial tengah ramai mengenai trend baru yakni garis merah di atas kepala atau disebut S-Line.

Trend ini mulai heboh dan banyak diikuti oleh warganet khususnya di aplikasi Tiktok dan X.

Sejak viralnya trend S-Line banyak warganet yang ikut meramaikan trend tersebut.

Hal ini pun dinilai berdampak buruk bagi masyarakat, karena mengungkap aspek pribadi mereka ke ruang publik bahkan jika diantara mereka yang mengikuti trend ini belum menikah.

Dampak negatif lainnya yakni kurangnya kesadaran akan batasan privasi mereka dalam bermedia sosial khususnya generasi muda.

“Hal ini dapat memicu pandangan buruk masyarakat, bahkan sampai anak-anak muda juga ikut dalam trend ini padahal mereka belum menikah. Niatnya seru-seruan tapikan ini juga sebenarnya aib mereka,” ungkap Sri Wahyuni, guru SMA di Kabupaten Sampang, Sabtu (19/7/2025).

Tak hanya itu, Yuni sapaan akrabnya juga menghimbau kepada anak-anak muda untuk bisa memilih trend mana yang bisa diikuti dan tidak berakibat buruk bagi pandangan masyarakat.

“Saya harap anak-anak muda bisa lebih selektif lagi mengikuti trend yang menjadi viral di media sosial. Jangan karena sedang ramai dimedsos sampai viral, malah diikuti tanpa tahu akibat yang ditimbulkan,” ujarnya, mengakhiri.

 

(ar/lb) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *