liputanbangsa.com – Kabar memprihatinkan datang dari Kabupaten Boyolali dan Blora, Jawa Tengah.
Dua Sekolah Dasar (SD) Negeri di wilayah tersebut dipastikan tak mendapatkan satu pun pendaftar siswa baru untuk tahun ajaran 2025/2026.
Dua sekolah tersebut, yakni SD Negeri Tawengan di Desa Doplang, Kecamatan Teras dan SD Negeri Kuncen di Desa Kedunglengkong, Kecamatan Simo.
Baca Juga : Ujian Praktik Nikah di Sekolah Tuai Pro Kontra : Apa Gunanya?
Hal ini dibenarkan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali, Lasno.
“Jadi informasi yang masuk baru dua sekolah. SD Negeri Sucen, Simo dan SD Negeri Tawengan di Teras ada nol pendaftar siswa baru,” kata Lasno, Selasa (15/7/2025).
Namun, permasalahan ini ternyata bukan hanya terjadi di dua sekolah tersebut.

Lebih dari separuh SD Negeri yang tersebar di Boyolali juga mengalami kesulitan memenuhi kuota siswa baru. Dari total 543 SD Negeri, lebih dari 50 persen di antaranya kekurangan murid.
“Standar per kelas sebanyak 28 siswa, namun separoh lebih SD Negeri tidak terpenuhi jumlah siswa barunya,” ungkap Lasno.
Ada berbagai faktor yang menyebabkan sekolah-sekolah ini sepi peminat.
Baca Juga : Viral, Siswi di Bengkulu Sindir Kebijakan Gubernur Helmi soal Jalan Kaki ke Sekolah
Salah satunya adalah jumlah lulusan TK yang memang sudah sangat sedikit, terutama di desa-desa tempat SD itu berada.
Jika jumlah anak lulusan TK saja minim, otomatis dampaknya akan langsung terasa di SD yang berada di sekitar mereka.
Selain itu, orang tua kini lebih leluasa memilih sekolah di luar desa mereka.
Contohnya, anak-anak di sekitar SD Negeri Tawengan justru lebih banyak mendaftar ke sekolah lain, seperti ke SD di Desa Kadireso, Kecamatan Teras, atau ke Madrasah di Kecamatan Sawit.
Baca Juga : Ayah Pakai Uang Bantuan Sekolah untuk Main Judi Online, Sang Anak SD di Touna
“Juga dipengaruhi keberhasilan program KB sehingga tingkat kelahiran pun mengalami penurunan,” terang Lasno.
Tak hanya soal jumlah anak yang semakin sedikit, perubahan gaya hidup masyarakat juga memengaruhi pilihan pendidikan.
Keluarga dengan kondisi ekonomi yang lebih mapan kini lebih memilih sekolah swasta, meski biayanya lebih mahal.
Alasan utamanya bukan sekadar kualitas pendidikan, tapi juga soal waktu.
“Sekarang kan banyak pasangan keluarga yang sama-sama bekerja. Mereka memilih sekolah untuk anaknya yang proses belajarnya sampai sore. Hitung-hitung sekalian nitip anak,” jelas Lasno.
(ar/lb)

