SEMARANG, liputanbangsa.com – Jawa Tengah sebagai sentra produsen sapi terbesar ke-2 setelah Jawa Timur, merasa dampak dari penyakit mulut dan kuku (PMK) merambat hingga ke ekonomi daerah, pendapatan peternak, hingga kebutuhan pangan hewani masyarakat. Pemerintah Jawa Tengah gunakan vaksin guna menghentikan penularan PMK.
Asisen Ekonomi Pembangunan Setda Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko dalam Kick Off Pengendalian dan Penanggulangan PMK di Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Nyawiji Ki Semar Desa Kadirejo Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang, menyampaikan pihaknya telah menargetkan sejumlah 2,4 juta ekor sapi di Jawa Tengah akan di vaksin.
“Kami berharap dengan dilakukan vaksinasi ini akan dapat mencegah penularan penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak berkuku belah, sehingga harapannya kedepan Provinsi Jateng secepatnya dapat terbebas dari penyakit tersebut,” terang Sujarwanto.

Berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, sejumlah 8.286.530 ekor sapi berpotensi terkena PMK. Jumlah tersebut terdiri dari sapi potong sebanyak 1,87 juta ekor, sapi perah 142.510 ekor, kerbau 58.190 ekor dan 3,79 juta ekor, domba 2,33 juta ekor, serta babi sebanyak 88.290 ekor.
“Ternak tersebut dipelihara 2,17 juta penduduk Jateng dan jika kita kalkulasikan, nilai asset ternak di Jateng ini Rp 43,75 tiriliun, sehingga penanganan PMK dan penyakit hewan lainnya mendapatkan etensi khusus dari Pemerintah Daerah Provinsi Jateng,” jelas Sujarwanto.
Total pelaksanaan vaksin PMK mencapai 1.359.801 dosis setara 9,12 persen dari distribusi vaksin yang diterima dari Kementerian Pertanian. Selaku kepala Disnakkeswan Jateng, Agus Wariyanto mengatakan vaksinasi digunakan untuk 2,4 juta ekor ternak yang belum divaksin ataupun yang vaksin lanjutan.
Agus menambahkan, beberapa upaya telah dilakukan Pemda Jateng untuk mengatasi OMK, diantaranya ialah pembentukan Satgas PMK dan pembentukan Kelompok Kerja URC PMK di Dinas Peternakan dan Keswan, investigasi lapangan kabupaten/kota yang diduga terkena PMK.

Peningkatan biosekuriti di UPT Budidaya dan Pembibitan Ternak, distribusi vaksin, obat-obatan, disinfektan, sarana prasarana medik keswan, dan melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi (KIE) pada peternak dan pelatihan untuk petugas, merupakan upaya yang dilakukan Pemda Jateng. Selain itu, adanya gerakan peningkatan “Jago Ternak” untuk mengatasi PMK ini dapat bekerjasama antara pihakpemerintah dan peternak.
Sementara itu, pemerintah daerah akan mempercepat pelaksanaan vaksin PMK dengan tujuan target pengendalian PMK bisa tercapai. “Kegiatan kick off vaksinasi dan penandaan ternak ini merupakan kegiatan awal untuk menguatkan kembali tekat dan kerja kita semua untuk melanjutkan program penanggulangan wabah PMK di Indonesia,” jelas Direktur Kesehatan Masyarakat Vetenier (Kesmavet) Kementerian Pertanian Syamsul Ma’arif.
Penyerahan bantuan secara simbolis kepada peternak sebanyak 127 ribu liter disenfektan untuk 35 kabupaten/kota dan 159 ribu botol obat-obatan, dilakukan pada kegiatan tersebut. (afifah/lbi)

